Selasa, 29 Maret 2011

ASAL – USUL REOG PONOROGO

Alkisah, dahulu di Kerajaan Kediri ada seorang putri yang sangat cantik bernama Dewi Sanggalangit. Suatu hari ada utusan dua orang raja datang melamar yaitu Raja Kelana Suwandana dari Kerajaan Wengker dan Raja Singabarong yang dikenal suka memaksa dari Kerajaan Lodaya. “Tuan Puteri harus menerima lamaran dari rajaku,” kata utusan Raja Singabarong bernada memaksa.

Dewi Sanggalangit didesak ayahandanya agar segera menjawab lamaran itu agar kedua raja sakti itu tidak menghancurkan Kerajaan Kediri.

 “Ananda ingin mengajukan beberapa syarat yang harus mereka penuhi. Pertama, ia harus menyediakan seratus empat puluh ekor kuda kembar yang dinaiki pemuda – pemuda rupawan. Kedua, ia harus membawa seekor binatang berkepala dua. Ketiga, ia harus menyajikan tontonan yang sangat menarik,” ujar Dewi Sanggalangit.

“Baik, akan kusanggupi syarat yang diminta sang Dewi,” kata Raja Kelana Suwandana mantap. Berkat kesaktiannya, 144 ekor kuda kembar telah siap dipersembahkannya.

Namun, saat mempersiapkan syarat – syarat, ia dikejutkan oleh dua orang tak dikenal yang setelah ditangkap ternyata mata – mata Raja Singabarong yang ingin merusak segala persiapan syarat – syarat lamaran.

 “Hem, kalau begitu, kita serang Kerajaan Lodaya,” kata Raja Kelana Suwandana.

Perang pun tak terelakkan. Kedua patih kerajaan saling bertarung. Patih Kerajaan Lodaya tewas. Mengetahui patihnya tewas, Raja Singabarong turun tangan dan langsung dihadapi Raja Kelana Suwandana. Pohon – pohon bertumbangan, bukit tanahnya longsor terimbas oleh berbagai ilmu kesaktian mereka.
Raja Singabarong yang dikepalanya dipenuhi kutu – kutu ganas sekali berhenti dan menggaruk garuk kepalanya. Bila di kerajaannya ia selalu dibantu seekor burung merak untuk memetuki kutu di kepalanya tetapi dalam perang hal itu tidak mungkin. Singabarong pun melarikan diri untuk menemui burung meraknya. Saat melihat seeokor burung mematuki kepala Raja Singabarong yang berkepala harimau itu, Raja Kelana Suwandana bergumam, “Inikah binatang berkepala dua yang diinginkan Sang Putri?”

 “Jadilah kau binatang berkepala dua!” kutuk Raja Kelana Suwandana pada Raja Singabarong. Aneh bin ajaib Raja Singabarong berubah menjadi binatang berkepala dua.

Melihat kejadian itu, Raja Kelana Suwandana merasa telah memiliki syarat untuk melamar Dewi Sanggalangit. Maka ia segera mengajukan lamaran. Saat melamar tak lupa ia memenuhi syarat ketiga dengan membawa rombongan penari dan alat tetabuhan. Perkawinan mereka dengan adanya 144 kuda kembar lengkap dengan penunggangnya yang gagah, hewan berkepala dua yaitu Singabarong dan meraknya, dan tontonan tersebut diiringi music. Tontonan itulah yang disebut Reog. Karena Reog berasal dari Ponorogo maka disebut Reog Ponorogo.

Gusti Dening Davit Harijono



Gusti,
Aku wis kaweden wengi iki
Kaya wengi – wengi sadurunge
Nalika adzan wis ilang
Lan langit wis ganti gambare
Widadari wis ilang swarane

Gusti,
Wis kewirangan saiki
Impen – impen sengit sing kokparingake
Sasmita – sasmita lungit sing kokbeberake
Ing papan lungguhku anget dening kringet
Pating clekit tinggimu
Gawe ora jenjemku

Gusti,
Apa isih ana kalodhangan
Raiku wis kaku dening sakeh dedosa sing bakal walaka
Mobah mosiking tangan lan sikilku
Wis ora bisa dakduwa
Mbabar crita wingi uni
Ing mangsa rembulan ndadari aku
Tinggal glanggang

Gusti ,
Pasaku dadi saya sepi
Sepa adoh saka swaraning darus
Lan tekdhur iku mung dadi klothekane wong kampong
Ngoyak ndruwo
Mung liwat bolonganing atiku

Jumat, 11 Maret 2011

Rossa -- Bicara Pada Bulan

tiga waktu berlalu
rentang hatiku menyayat
wajah kasih yang dulu
hadir dalam tidur

malamku penuh mimpi
pertemuan tak terjamah
sinar di ujung sana
menerangimu

reff:
pernah kau berkata
bila ku merindu
bicara saja bintang kan mendengar
maka kau kan merasakannya
**
aku tahu diri
semua takkan mungkin
biarkan saja semua jadi kenangan yg mungkin
takkan terlupa sampai kau menua
biar saja

hujan di ujung bulan
biar jadi saksi hati
betapa pun mencinta
ini takkan mungkin

repeat reff,**, reff