Alkisah, dahulu di Kerajaan Kediri ada seorang putri yang sangat cantik bernama Dewi Sanggalangit. Suatu hari ada utusan dua orang raja datang melamar yaitu Raja Kelana Suwandana dari Kerajaan Wengker dan Raja Singabarong yang dikenal suka memaksa dari Kerajaan Lodaya. “Tuan Puteri harus menerima lamaran dari rajaku,” kata utusan Raja Singabarong bernada memaksa.
Dewi Sanggalangit didesak ayahandanya agar segera menjawab lamaran itu agar kedua raja sakti itu tidak menghancurkan Kerajaan Kediri.
“Ananda ingin mengajukan beberapa syarat yang harus mereka penuhi. Pertama, ia harus menyediakan seratus empat puluh ekor kuda kembar yang dinaiki pemuda – pemuda rupawan. Kedua, ia harus membawa seekor binatang berkepala dua. Ketiga, ia harus menyajikan tontonan yang sangat menarik,” ujar Dewi Sanggalangit.
“Baik, akan kusanggupi syarat yang diminta sang Dewi,” kata Raja Kelana Suwandana mantap. Berkat kesaktiannya, 144 ekor kuda kembar telah siap dipersembahkannya.
Namun, saat mempersiapkan syarat – syarat, ia dikejutkan oleh dua orang tak dikenal yang setelah ditangkap ternyata mata – mata Raja Singabarong yang ingin merusak segala persiapan syarat – syarat lamaran.
“Hem, kalau begitu, kita serang Kerajaan Lodaya,” kata Raja Kelana Suwandana.
Perang pun tak terelakkan. Kedua patih kerajaan saling bertarung. Patih Kerajaan Lodaya tewas. Mengetahui patihnya tewas, Raja Singabarong turun tangan dan langsung dihadapi Raja Kelana Suwandana. Pohon – pohon bertumbangan, bukit tanahnya longsor terimbas oleh berbagai ilmu kesaktian mereka.
Raja Singabarong yang dikepalanya dipenuhi kutu – kutu ganas sekali berhenti dan menggaruk garuk kepalanya. Bila di kerajaannya ia selalu dibantu seekor burung merak untuk memetuki kutu di kepalanya tetapi dalam perang hal itu tidak mungkin. Singabarong pun melarikan diri untuk menemui burung meraknya. Saat melihat seeokor burung mematuki kepala Raja Singabarong yang berkepala harimau itu, Raja Kelana Suwandana bergumam, “Inikah binatang berkepala dua yang diinginkan Sang Putri?”
“Jadilah kau binatang berkepala dua!” kutuk Raja Kelana Suwandana pada Raja Singabarong. Aneh bin ajaib Raja Singabarong berubah menjadi binatang berkepala dua.
Melihat kejadian itu, Raja Kelana Suwandana merasa telah memiliki syarat untuk melamar Dewi Sanggalangit. Maka ia segera mengajukan lamaran. Saat melamar tak lupa ia memenuhi syarat ketiga dengan membawa rombongan penari dan alat tetabuhan. Perkawinan mereka dengan adanya 144 kuda kembar lengkap dengan penunggangnya yang gagah, hewan berkepala dua yaitu Singabarong dan meraknya, dan tontonan tersebut diiringi music. Tontonan itulah yang disebut Reog. Karena Reog berasal dari Ponorogo maka disebut Reog Ponorogo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar